KN-PRBBK XIV Tahun 2021: Refleksi Kritis Pemberitaan dan Komunikasi Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas

Petrasa Wacana, sebagai Ketua Penyelenggara KNPRBBK XIV 2021, melalui pers releasenya pada 12 September 2021, menyampaikan mengenai kegiatan refleksi kritis pemberiataan dan Komunikasi pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Hal ini relevan dengan kondisi wilayah Indonesia yang sangat rawan bencana.  Bencana-bencana besar yang berdampak luas dengan korban jiwa dan harta benda serta kerusakan infrastruktur telah terjadi. Ingat saja gempa-tsunami Aceh Nias 2004, gempabumi Yogyakarta-Jawa Tengah 2006, tsunami Pangandaran 2006, gempabumi Padang 2009, erupsi Gunung Merapi 2010, kebakaran hutan dan lahan 2015, gempabumi Lombok 2018, tsunami Selat Sunda 2018, dan seterusnya. Kejadian itu baru bencana skala besar, belum lagi bencana skala sedang dan bencana skala kecil. Oleh karena itu tidak heran kalau Indonesia sempat disebut sebagai “supermaket bencana”. Berhubung citra sebutan “supermaket bencana” dianggap oleh pihak berwenang terlalu negatif maka kemudian diganti dengan sebutan “laboratorium bencana”.

Kejadian bencana membawa tragedi, drama, perjuangan dan penderitaan. Semua ini menjadi lahan sangat subur bagi media. Tiras (oplah) dan rangking media menjadi meningkat dengan pemberitaan bencana, istilah yang umum adalah “bad news is good news” atau kabar buruk adalah berita yang bagus. Akan tetapi terlalu banyak membaca berita buruk membuat orang menjadi mual (Jw: eneg) dan akibatnya malah tidak membaca berita sama sekali atau jadi “no news is good news”. Selanjutnya muncul gerakan jurnalisme positif dengan prinsip “good news is good news”.

Gerakan pemberitaan kebencanaan secara positif semakin gencar dengan dibentuknya Jaringan Jurnalis Siaga Bencana (JJSB) oleh 22 orang wartawan di Sumatera Barat pada 29 Januari 2009. JJSB menerbitkan leaflet “Meliput Bencana: Panduan untuk Jurnalis” dan buku “Jurnalis di Titik Nol” pada  Setahun sebelumnya, wartawan Kompas, Ahmad Arif menerbitkan buku “Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana”. Liputan mendalam Kompas bertajuk “Ekspedisi Kompas : Hidup  Mati  Di  Negeri  Cincin  Api” menjadi  fenomenal  dalam  pemberitaan  bencana di Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat menghargai dan mengapresiasi peran media dalam liputan kebencanaan. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dan semangat untuk tetap terjaga dan berkelanjutan untuk mewujudkan ketangguhan bangsa. Tiap tahun dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB), BNPB menganugerahkan penghargaan kepada media massa (televisi, media cetak, media online dan radio) yang telah terlibat secara aktif dalam penanggulangan bencana, baik itu bencana alam maupun nonalam.

Kejadian bencana berdampak besar kepada komunitas lokal. Pemberitaan positif di bidang kebencanaan ini menjadi berita baik bagi upaya pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas. Dengan adanya pemberitaan positif tersebut komunitas lokal tidak lagi hanya sebagai sekedar angka statistik korban bencana atau obyek penderita tapi menjadi subyek utama dengan segala suka dukanya. Dalam beberapa segi masyarakat setempat juga memberitakan dirinya sendiri melalui media radio komunitas atau media lokal lainnya.

Dalam rangkaian acara “Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (KNPRBBK) XIV Tahun 2021” yang diadakan oleh Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) bersama lembaga dan jejaring di seluruh Indonesia, topik pemberitaan positif ini menjadi salah satu agenda penting, yaitu dengan dilaksanakannya “Refleksi Kritis Pemberitaan dan Komunikasi Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 12 September 2021, pukul 15.30-17.30 WIB dan disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom Meeting (https://us02web.zoom.us/j/89610422526?pwd=RmZrUXVFSy9pUGV4YlhYYXdnbXJHZz09,  Meeting ID: 896 1042 2526, Passcode: knprbbk) dan streaming Youtube PRBBK Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan secara langsung para pelaku sejarah pemberitaan positif kebencanaan.

Acara kegiatan refleksi ini akan dibuka oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusadatin KK) BNPB Dr.  Abdul Muhari, S.Si, MT. Pusdatin KK BNPB telah banyak melakukan upaya peningkatan kapasitas kepada para jurnalis kebencanaan dan membentuk Forum Komunikasi Wartawan serta memilih dan memberikan penghargaan kepada insan media yang memberikan sumbangan besar kepada upaya penanggulangan bencana.

Sebagai moderator adalah John Nedy Kambang, seorang jurnalis Sumatera Barat yang pada tahun 2009 mendirikan JJSB. Hingga kini anggota JJSB sudah ratusan orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Narasumber refleksi antara lain (1) Ahmad Arif, wartawan Kompas, (2) A.B. Rodhial Falah, kontributor Deutsche Welle TV, (3) Sinam M Sutarno, Jaringan Radio Komunitas Indonesia/JRKI, (4) Citra Prastuti, Pemred KBRPRIME.ID, (5) Bagus Kurniawan, wartawan portaljogja.com grup Pikiran Rakyat.com.

Karya-karya Ahmad Arif sudah sangat banyak di bidang kebencanaan seperti buku “Jurnalisme Bencana Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana”, liputan “Ekspedisi Kompas : Hidup Mati Di Negeri Cincin Api”, buku “Catatan Pemikiran dari Titik Nol Tsunami Aceh: Membangun Negeri Sadar Bencana”, dan lain-lain. Ahmad Arif juga mendirikan Jurnalis Bencana dan Krisis (JBK) Indonesia dan laporcovid19.org.

Deutsche Welle TV  (DW TV) adalah media internasional dengan pusat di negara Jerman dan di Indonesia berupa kantor pemberitaan lokal. Tentunya akan menarik mendengarkan paparan A.B. Rodhial Falah sebagai kontributor DW  TV  menjalankan  kiat-kiat dan  pengalaman dalam meliput kebencanaan dan melaporkannya.

KBR adalah penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999 dan produknya telah digunakan lebih dari 500 radio di Indonesia dan 200 radio di Asia dan Australia. Berita- berita KBR juga dapat disimak melalui media sosialnya. Citra Prastuti sebagai pemimpin redaksi

KBRPRIME.ID akan berbagi mengenai kebijakan, kiat dan pengalaman untuk memberitakan kebencanaan.

Bagus Kurniawan tumbuh dan besar di Yogyakarta. Mengawali karir wartawan di media lokal Yogyakarta dan dilanjutkan dengan media online Detik.Com serta saat ini sebagai wartawan portaljogja.com grup Pikiran Rakyat.com. Bagus telah meliput kejadian gempabumi Jogja-Jateng 2006, tsunami Pangandaran 2006, erupsi Gunung Merapi, dan lain-lain. Pengalaman, wawasan dan pembelajaran yang kaya ini akan menjadi bagian dalam refleksi media.

Radio komunitas berdiri dan eksis di tengah komunitasnya serta tetap memainkan peran sentral bagi pendengarnya. Hadirnya media sosial, portal berita online, tidak menyurutkan eksistensi radio komunitas. Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) tumbuh dan berkembang bersama komunitas. Anggota JRKI lebih dari 450 radio komunitas yang tersebar di 22 provinsi, termasuk di Papua. Ketua JRKI Sinam M. Sutarno akan membagikan kiat-kiat dalam mengelola jejaring radio komunitas, pengalaman dan suka duka, wawasan serta pembelajaran dalam penanggulangan bencana.

Sebagai penanggap kegiatan refleksi ini adalah (1) Sukiman, Lintas Merapi, (2) Remon, Radio Elsinta, dan (3) Siswantini Suryandari, Media Indonesia. Sukiman adalah warga lereng selatan Gunung Merapi yang mengalami secara langsung erupsi Gunung Merapi, mengungsi dan kembali beraktivitas setelah Gunung Merapi normal. Sukiman aktif terlibat dalam PASAG Merapi dan radio komunitas Lintas Merapi.

Radio Elshinta adalah stasiun radio nasional di Indonesia yang menyiarkan berita selama 24 jam nonstop dan berpusat di Jakarta. Sesuai dengan format acaranya News and Talk, radio ini menyiarkan berita dan informasi aktual, serta gelar wicara. Berita ini yang disiarkan termasuk berita seputar kondisi lalu  lintas  terkini, selain  ekonomi,  politik, sosial,  budaya dan  berbagai  hal  yang  diperlukan  oleh komunitas pendengarnya diseluruh kota terbesar di Indonesia. Sebagai jurnalis kawakan di Radio Elshinta, Remon sangat trampil dalam menangkap suatu kondisi menjadi berita menarik. Hal ini terbukti dalam Ekspedisi Destana Tsunami menyusuri pantai selatan Pulau Jawa dari Banyuwangi hingga Banten pada tahun 2019 yang diadakan oleh BNPB.

Penanggap terakhir adalah Siswantini Suryandari   dari Media Indonesia. Siswantini memulai karir sebagai wartawan lapangan dan sekarang menjadi staf redaksi Media Group dan asisten redaksi Mediaindonesia.com. Dari pengalaman lapangan hingga meja redaksi ini yang akan menjadi bahan diskusinya.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.